Pendekatan Behavioralism Pada Perilaku Pemilih

Posted on Updated on


Penulis & Judul Sumber : SP. Varma, Teori Politik Modern, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
: Dr. Afan Gaffar, Revolusi Behavioralisme, Yogjakarta: FISIP, UGM.
Topik : Pendekatan Behavioralism Pada Perilaku Pemilih

Screen Shot 2015-05-26 at 11.25.32 PM

  1. Deskripsi

Dalam Buku Teori Politik Modern (SP. Varma) bahasan tentang Behavioralisme dikupas pada BAB 2 dengan judul BAB Revolusi Behavioralisme Dalam Ilmu Politik: Arti, Tujuan, dan Batasan-Batasan. Sementara itu tulisan Dr. Afan Gaffar merupakan diktat perkuliahan/bahan ajar di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, UGM yeng membahas tentang sejarah behavioralisme, ruang lingkup, dan konsep-konsepnya.

  1. Ringkasan Buku Afan Gaffar
  • Behavioralisme lahir karena adanya ketidakpuasan kalangan sarjana politik terhadap prosedur atau cara melakukan studi politik tradisional yaitu salah satunya ketidakpuasan terhadap para sarjana politik terhadap analisis yang sifatnya semata-mata deskriptif.
  • Faktor lain lahirnya behavioralisme adalah pengaruh dari penganut aliran positivisme dan pada waktu itu di Amerika semakin berkembang pengumpulan pendapat umum dengan menggunakan reknis riset survey melalui kombinasi dengan matematika dan statistik
  • Periodesasi berkembang behavioralisme dapat dilihat pada tabel dibawah
Periode Keterangan
Perang Dunia II s/d 1949. Pada periode ini behavioralisme belum menunjukkan wajah yang jelas sebagai sebuah gerakan, akan tetapi tanda-tanda kehadirannya sudah mulai dilihat
1950 s/d pertengahan 1950-an Behavioralisme sudah membawa dampak yang sangat besar baik dalam hal penelaahan ilmu politik maupun dalam profesi mereka yang belajar ilmu politik.
1950 s/d 1982 Penentang behavioralisme memberikan kritik-kritik tajam sehingga usaha untuk memperbaiki metode dan prosedur analisis lebih ditingkatkan lagi.
    • Basis keyakinan atau kredo pada sarjana ilmu politik yang menganut paradima behavioralisme digolongkan sebagai berikut:

  1. Keteraturan, sarjana politik percaya jika perilaku politik manusia dapat diamati secara teratur karena perilaku tersebut menunjukkan kesamaan. Dengan demikian generalisasi ataupun teori-teori dapat mempunyai makna atau nilai eksplanatif dan prediktif
  2. Verifikasi, kesahihan generalisasi atau sebuah teori haruslah secara prinsipil dapat diuji, tentu saja yang berkaitan dengan perilaku yang relevan dengan generalisasi atau teori yang bersangkutan.
  3. Techniques, artinya cara untuk memperoleh dan menginterpretasi data tidaklah dilakukan dengan begitu saja. Data harus diamati dengan seksama dengan melibatkan metode dan teknik yang cermat, terutama dalam pengamatan, pencatatan, dan analisis perilaku.
  4. Kuantifikasi, ketepatan dalam mencatat dan mempresentasikan data mengharuskan adanya pengukuran dan kuantifikasi dengan cara yang sangat obyektif
  5. Nilai-Nilai, sistem nilai dan ekpslanasi yang empirik haruslah dapat dipisahkan. Oleh karena itu netralitas dalam mengadakan eksplanasi sangat diperhatikan.
  6. Sistematik, penelitian haruslah dilaksanakan secara sistematik. Artinya haruslah ada hubungan yang jelas dan erat antara teori dan riset, karena riset yang tidak diarahkan oleh teori dapat bersifat trivial (sepele), sebaliknya teori yang tidak didukung oleh data akan tidak ada artinya.
  7. Ilmu Murni, penggunaan ilmu pengetahuan merupakan abgian dari usaha ilmiah. Akan tetapi pemahaman dan eksplanasi dari perilaku politik hendaklah mengawali atau sebagai basis bagi usaha untuk menyelesaikan masalah yang taktis dalam kehidupan masyarakat
  8. Integrasi, karena ilmu sosial berhubungan dengan keseluruhan kehidupan manusia, penelitian politik dapat tidak memperhatikan temuan-temuan dari disiplin ilmu lainny hanyalah apabila ida dapat membawa resiko yang melemahkan hasil penelitian itu sendiri
  • Behavioralisme dapat dipandang sebagai usaha untuk mengubah ilmu politik dari ilmu yang baru memiliki pra-paradigma menuju ke tingkat ilmu yang sudah memiliki paradigma jauh lebih canggih dan kuat.
  • Pelopor studi ilmu poilitik ilmiah adalah Charles E. Merriam, William Bennet Munro dan George E. G. Catlin. Ketiga ilmuwan ini memiliki paradigma dan pemikiran yang sama terhadap studi ilmu politik (lihat tabel 1).
  • Persamaan pemikian ketiga ilmuwan tersebut adalah bahwa ilmu politik harus dapat seperti ilmu lainnya yang dapat mengukur secara pasti atau melakukan prediksi berdasarkan hukum-hukumnya.
  • Behavioralisme memberikan dampak yang positif dalam beberapa hal, antara lain:
  1. Khasanah perbendaharaan kata dalam ilmu politik menjadi semakin bertambah kaya, seperti check and balances, demand and support, input-output, unit of analysis.
  2. Adanya peningkatan perhatian terhadpa perbaikan alat analisis dan metodologi
  • Behavioralisme tidak memiliki paradigma. Jika kita artikan paradigma sebagai cara pandang dunia, maka ilmuwan behavioralisme tidak memilikinya. Artinya revolusi behavioralisme tidaklah sama sekali berhasil menggantikan studi politik secara tradisional atau bahkan konvergensi.

Kritik-Kritik Terhadap Behavioralisme

  • Menjadikan ilmu politik seperti sains tidak mungkin berhasil karena ilmu politik tidak memiliki unit pengamatan yang konstan yang dapat dipergunakan sebagai variabel yang dapat diukur.
  • Ilmu Politik tidaklah dan tidak akan menjadi ilmu yang sebenarnya seperti halnya ilmu alamiah, alasannya ilmu politik berhubungan dengan gejala manusa yang selalu dapat mengubah sikap, motif, dan perilakunya.
  • Terlalu banyak variabel yang harus dikontrol, sehingga sangat sulit untuk menciptakan apa yang disebut laws seperti halnya ilmu alamiah.
  • Perilaku politik yang tampak hanyalah memperlihatkan sebagian dari gejala. Individu yang berbeda dapat memperlihatkan gejala yang sama akan tetapi dengan arti atua makna yang berbeda.
  • Kuantifikasi mensyaratkan konsep dan alat pengukur yang dapat dipercaya, akan tetapi ilmu politik tidak memiliki kedua-duanya.

 

Kesimpulan

Ilmu politik telah mengalami perkembangan yang sangat besar, baik menyangkut metodologinya maupun yang berkaitan dengan apa yang menjadi pusat perhatiannya. Salah satu yang menyebabkan perubahan tersebut adalah terjadinya revolusi behavioralisme yang membawa dampak yang sangat luas seperti yang dirasakan sekarang.

Tabel 1. Pemikiran Behavioralisme dari 3 orang ilmuwan Politik

Charles E. Merriam William Bennet Munro George E. G. Catlin
–      Dimasa awal perkembangan ilmu politik, Charles E. Merriam melalui bukunya The New Science of Politics, mengusulkan untuk mengadakan rekonstruksi metode studi ilmu politik yaitu dengan menekankan pada studi politik yang berorientasi pada penyelesaian masalah dengan meminjam konsep dari ilmu lainnya terutama statistik dan psikologi.-      Menekankan pada pentingnya netralitas nilai yang bersifat normatif sehingga obyektifitas akan dapat dicapai. –      Jika ilmu politik dapat saja menciptakan fundamental laws atau hukum yang mampu menjelaskan gejala politik, khususnya perilaku politik. Hukum-hukum tersebut akan dapat diungkapkan dengan lebih jelas apabila ilmuwan ilmu politik tidak lagi mengafiliasikan dirinya dengan filsafat dan sosiologi dan lebih banyak mengadopsi metodologi dan obyektifitas ilmu alamiah.-      Bahwa ilmu politik harus mencari konsep-konsep yang mampu mengadakan test yang senyatanya dan untuk itu ilmu politik harus menekankan pada pengamatan kehidupan yang aktual sehingga prediksi dengan dasar laws tersebut dapat menciptakan kepastian seperti ilmu eksakta, karena perilaku manusia pada umumnya selalu dimodifikasi oleh pengalaman dan alam itu sendiri, sehingga perilaku menunjukkan uniformitas atau pola yang teratur. –       bahwa ilmu politik dapat membuat prediksi seperti halnya ilmu alamiah, jika sesuatu dilaksanakan maka tentu saja akan ada efeknya, sepanjang elemen-elemen yang lainnya sama. Bagi Catlin dengan berkaca pada ilmu ekonomi, bahwa ilmu politik berasumsi bahwa manusia didorong oleh keinginan untuk mendominasi, oleh karena itu subject metter yang utama bagi ilmu politik adalah kekuasaan atau power. Arena politik hendaknya dipandang sebagai pasar bagi kekuasaan.-       Ilmu Politik harus menekankan pada cara, metode dan sarana, bukan kepada tujuan
  1. Ringkasan Buku SP. Varma
  • Behavioralisme menekankan bahwa yang dapat diakui sebagai data adalah data yang validitasnya didasarkan atas observasi, yang diperoleh melalui penggunaan panca-indera atau peralatan mekanis.
  • Kaum tradisonalis percaya jika kaum behavioralis telah membuat disiplin ini lebih sadar serta kritis terhadap dirinya sendiri, membuatnya terbuka terhadap pengaruh interdisipliner yang begitu penting dan perbaikan teknik serta metodologi penelitian.
  • Perdebatan Pendekatan Behavioralisme dan Tradisionalisme berdasarkan komponen utama behavioralisme menurut David Easton :
Komponen Behavioralisme Tradisionalisme
Regularitas Kaum behavioralis percaya jika perilaku politik dapat diekspresikan dalam generalisasi atau teori yang mampu menjelaskan serta meramalkan fenomena politik Perilaku manusia tidak dapat dipelajari dengan objektifitas. Terlalu banyak variabel dalam fenomena politik sehingga tidak dapat mengarah pada generalisasi atas penemuan hukum-hukum tentang perilaku manusia
Verifikasi Ilmu pengetahuan supaya valid harus terdiri dari proposisi yang telah mengalami pengujian yang bersifat empiris dan semua fakta yan gada harus didasarkan pada observasi. Fenomena yang benar-benar dapat diamati, hanya merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan pengetahuan yang harus didapatkan
Teknik Kaum behavioralis mempunyai komitmen kuat terhadap pentingnya penggunaan teknik yang tepat untuk mendapatkan dan menginterpretasikan data, serta tehradap pemanfaatan riset atau metode. Data dalam ilmu sosial tidak mungkin objektif dan maslah teknik tidak seharusnya mengorbankan isi penelitian.
Kuantifikasi, Data dalam penelitian ilmu politik harus dapat dikuantifikasi melalui pengukuran yang seksama. Banyak permasalahan penting yang tidak dapat dikuantifikasi
Nilai Nilai dan Fakta merupakan dua hal yang terpisah dan secara analitis harus dijaga agar tetap berbeda. Sehingga penelitian ilmiah harus bebas nilai Masalah politik yang signifikan selalu melibatkan masalah moral dan etika. Sehingga penelian menjadi tidak bebas nilai.
Sistematisasi Penelitian dalam ilmu politik harus sistematis yaitu harus diorientasikan pada teori serta dibimbing oleh teori. Penelitian berbicara dari segi teori nilai
Ilmu Murni Teori dan penerapannya merupakan bagian dari suatu usaha ilmiah Tujuan ilmuwan sosial adalah bisa menemukan pemecahan yang tepat atas kesulitan yang ada dalam masyarakat serta bagaimana masyarakat tersebut diubah
Integrasi Ilmu Pemahaman terhadap fenomena politik membutuhkan integrasi ilmu antara ilmu politik, ekonomi, budaya dan yang lainnya Terlalu banyak meminjam konsep serta teknik dari ilmu lain justru akan menimbulkan kebingungan serta menimbulkan ketergangungan ilmu politik terhadap ilmu lain.

Terhadap perdebatan antara behavioralisme dan tradisionalisme terdapat 2 (dua) hal penting, yaitu

  1. Ada suatu usaha, apapun alasananya, dalam ilmu sosial untuk lebih bersifat ilmiah
  2. Tumbuhnya kesadaran dalam semua cabang ilmu sosial untuk lebih bersifat inter-disipliner.
  • Terdapat 3 tahap perkembangan behavioralisme yaitu sebelum perang dunia II, awal 1950-an s/d 1960, dan tahun 1960-an.
  • Prestasi behavioralisme dalam ilmu politik antara lain: analisa isi, analisa kasus, wawancara dan pengamatan dan statistik.
  • Sejumlah pendekatan baru juga dikembangkan oleh kaum behavioralisme yaitu seperti analisa struktural fungsional, analisa input-output, teori permainan (game theory), model lapangan (field model) dan yang lainnya.
  • Kaum behavioralisme terlalu memusatkan perhatian pada perilaku individu dan kelompok, mereka kurang memberikan perhatian pada lembaga-lembaga.
  • Tujuan ilmu politik behavioral bukanlah tercapainya suatu kehidupan yang baik, tetapi memahami dan menggambarkan berbagai fenomena politik secara realistis serta meramalkan sesuatu. Tujuan utamanya adalah menjadikan suatu ilmu pengetahuan demi kepentingan ilmu pengetahuan.
  • Suatu teori tidak sekedar merupakan suatu deskripsi, tetapi juga merupakan alat analisa, seperangkat prinsip atau pola konsepsional yang dapat membantu menjelaskan serta meramalkan suatu fenomena.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s