Perilaku Non Voting Dalam Pemilu

Posted on Updated on


IMG_0017Isitilah perilaku non voting dalam bahasa Indonesia diartikan tidak memilih atau lebih dikenal dengan golput (golongan putih). Dalam beberbagai literatur perilaku memilih, perilaku non voting umumnya digunakan untuk merujuk pada fenomena ketidakhadiran seseorang dalam Pemilu[1]. Non voting merupakan mereka yang dengan sengaja dan dengan suatu maksud dan tujuan yang jelas menolak memberikan suara pada Pemilu[2]. Oleh karenanya perilaku non voting umumnya dimanifestasikan dalam bentuk ketidakhadiran dalam bilik suara[3].

Arbi Sanit [4] menggunakan konsep perilaku non voting atau golput untuk merujuk pada tiga fenomena berikut: Pertama, orang yang tidak menghadiri TPS sebagia aksi protes terhadap pelaksanaan pemilu atau sistem politik yang ada. Kedua, orang yang menghadiri TPS namun tidak menggunakan hak pilihnya secara benar, seperti menusuk lebih dari satu tanda gambar. Ketiga, orang yang menggunakan hak pilihnya namun dengan jalan menusuk bagian putih dari kartu suara. Dalam konteks ini, perilaku non voting merupakan refleksi protes atau ketidakpuasan terhadap sistem politik yang sedang berjalan.

Gejala perilaku non voting telah terjadi sejak masa orde baru dimana sistem politik hegemoni saat itu di jalankan oleh rezim Soeharto. Penelitian Muhammad Asfar terhadap perilaku non voting dilakukan pada masa orde baru yaitu tahun 1996 – 1997 yang membawa pada kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut:[5]

Pertama, berdasarkan pendekatan sosiologis, bahwa para non-voter memiliki karakteristik sosial secara pendidikan memadai (tinggi), pekerjaan yang bervariasi (pengusaha, PNS, aktivis LSM, dan petani), para non-voter berkecenerungan memiliki latar belakang aktif di organisasi sosial dan kemahasiswaan, dari sisi pendapatan para non-voter mengaku penghasilannya cukup atau lebih dari cukup.

Kedua, berdasarkan pendekatan sosio-psikologis, bahwa pada non-voter yang diteliti memiliki tipe kepribadian yang toleran dan tidak otoriter. Para non-voter juga mengaku sangat terbuka terhadap berbagai saran dan kritik dari orang lain dan tidak pernah berpikir bahwa orang lain harus berpikiran, bersikap dan berperilaku seperti mereka. Para non-voter secara orientasi kepribadian mempunyai orientasi kepribadian anomi yang dimanifestasikan melalui penilaian mereka yang menganggap aktivitas politik (voting) sebagai sesuatu yang sia-sia yang disebabkan ketidakmampuan lembaga-lembaga demokrasi dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Disamping itu, para non-voter umumnya memiliki pengalaman sosialisasi politik yang kurang menyenangkan, seperti pernah dikecewakan partai politik atau kecewa terhadap penampilan institusi-institusi demokrasi.

Ketiga, berdasarkan pendekatan pilihan rasioal, bahwa pada non-voter yang diteliti mempunyai persepsi dan evaluasi kurang baik terhadap sistem politik dibuktikan dengan dwi fungsi ABRI, perlemahan institusi demokrasi seperti DPR dan PDRD, serta evaluasi kurang baik terhadap sistem Pemilu yang dibuktikan dengan penggabungan partai politik, pelaksanaan pemilu yang tidak jujur dan adil, serta keterlibatan ABRI dan Birokrasi untuk pemenangan Golkar.

Keempat, berdasarkan faktor kepercayaan publik, bahwa para non-voter yang diteliti memiliki kepercayaan politik yang sangat rendah. Kepercayaan politk ini ditujukan kepada: tidak berfungsinya lembaga perwakilan (DPR dan DPRD), tidak berfungsinya lembaga peradilan (Pengadilan Negeri), praktek korupsi kolusi dan nepotisme serta kebijakan-kebijakan pemerintahan orde baru yang tidak kondusif bagi proses demokrasi.

Kelima, perilaku non-voting umumnya dimanifestasikan dalam bentuk ketidakhadiran di tempat pemungutan suara. Separuh non-voter memanifestasikan perilaku tidak memilih dalam bentuk semacam ini. Sementara itu, separuh lainya dimanifestasikan dalam bentuk mencoblos semua tanda gambar, mencoblos bagian putih dari kartu suara dan tidak mencoblos sama sekali.

Beberapa penelitian pada masa era reformasi juga menempatkan penyebab non-voting pada pemilih di Indonesia tidak jauh berbeda hasilnya dengan hasil penelitian Muhammad Asfar diatas. Evan[6] dalam tulisannya juga mengatakan bahwa penyebab perilaku non voting hampir sama seperti kesimpulan penelitian Muhammad Asfar yaitu voter registration, sociodemographics (age, gender, ethnic group, education, income, union membership), type of electoral system, dan socioeconomic. Instrumen-instrumen ini dapat menjadi variabel dalam melihat perilaku non-voting.

Bismar Ariyanto[7] membuat kesimpulan penelitiannya bahwa penyebab perilaku non-voting disebabkan oleh 2 hal yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal meliputi faktor teknis dan faktor pekerjaan. Faktor teknis yang penulis maksud adalah adanya kendala yang bersifat teknis yang dialami oleh pemilih sehingga menghalanginya untuk menggunakan hak pilih. Seperti pada saat hari pencoblosan pemilih sedang sakit, pemilih sedang ada kegiatan yang lain serta berbagai hal lainnya yang sifatnya menyangkut pribadi pemilih. Kondisi itulah yang secara teknis membuat pemilih tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Faktor pekerjaan merupakan pekerjaan sehari-hari pemilih. Berdasarkan data BPS tahun 2010 bahwa sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor informal, dimana penghasilannya terkait dengan intensitasnya bekerja. Banyak pemilih yang tidak memilih karena tidak mau meninggalkan pekerjaannya.

Faktor eksternal meliputi faktor administrasi, faktor sosialisasi dan faktor politik. Faktor adminisistratif adalah faktor yang berkaitan dengan aspek adminstrasi yang mengakibatkan pemilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Diantaranya tidak terdata sebagai pemilih, tidak mendapatkan kartu pemilihan tidak memiliki identitas kependudukan (KTP). Hal-hal administratif seperti inilah yang membuat pemilih tidak bisa ikut dalam pemilihan. Faktor sosialisasi adalah faktor tidak memilihnya pemilih karena kurangnya informasi yang diperoleh terkait jadwal dan tempat pemilihan serta kurangnya kesadaran politik. Faktor politik adalah alasan atau penyebab yang ditimbulkan oleh aspek politik masyarakat tidak mau memilih. Seperti ketidak percaya dengan partai, tak punya pilihan dari kandidat yang tersedia atau tak percaya bahwa pileg/pilkada akan membawa perubahan dan perbaikan. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya.

Menurut penulis, semakin tingginya angka golput tidak dapat diasumsikan bahwa demokrasi tidak semakin baik. Banyak faktor yang menyebabkan pemilih golput sehingga perlu hati-hati dalam membangun preposisi. Jika sebagian besar golput karena disebabkan alasan politik-ideologis maka perlu menjadi kekhawatiran terhadap tingginya angka Golput. Tetapi jika Golput lebih banyak karena faktor teknis-administrasi dan pilihan rasional, maka tidak perlu tingginya angka Golput dikhawatirkan.

[1] Muhammad Asfar, Perilaku Non Voting Di Bawah Sistem Politik Hegemonik, Tesis Program Studi Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, 1998. Hal 173.

[2] Bismar Ariyanto, Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih Dalam Pemilu, Dalam Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011. Hal. 54

[3] Perilaku non voting bisa juga dalam bentuk misalnya merusak surat suara seperti di negara brazil, australia, belgia dan italia. Perilaku non voting semacam ini umumya dipakai oleh para pemilih sebagai bentuk protes terhadap pihak pemerintah atau suatu rezim yang biasanya terjadi pada negara-negara yang menerapkan hukum wajib memilih (compulsary). Sumber Muhammad Asfar, op.cit, hal. 172

[4] Arbi Sanit, Aneka Pandangan Fenomena Golput, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992, Hal: 39

[5] Muhammad Asfar, Op.Cit, hal. 206 – 216.

[6] Jocelyn A. J. Evans, Voters & Voting An Introduction, London: Sage Publication, 2004: hal: 146-169

[7] Bismar Ariyanto, Op.Cit, hal: 56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s