Resensi Buku “Kuasa Rakyat” Saiful Munjani

Posted on Updated on


Penulis & Judul Sumber : Saiful Mujani dkk, Kuasa Rakyat, Bandung: Mizan Publika, 2008.
Topik : Perilaku Pemilih Dalam Pemilu di Indonesia

KR

 Deskripsi

Buku ini merupakan hasil dari serangkaian penelitian lapangan pada pemilu di Indonesia pada kurun waktu 1999-2009. Isi buku mendemonstrasikan bagaimana faktor-faktor sosiologis, psikologis dan pilihan rasional mempengaruhi sesorang warga dalam memilih partai politik atau calon tertentu dalam pemilihan umum dan pemilihan presiden di Indonesia. Hal baru dalam buku ini yang tidak hadir dalam buku-buku yang sudah ada yakni buku/penelitian ini bertumpu pada individu pemilih sebagia unit analisisnya serta menjadikan model ekonomi-politik (model pilihan rasional) dan model psikologis (identitas partai dan kualitas personal tokoh) yang dijadikan pendekatan untuk memahami dinamika perilaku pemilih di Indonesia.

  1. Metode Penulisan

Studi dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dimana unit analisisnya adalah individu pemilih. Studi menggunakan hasil survei opini publik nasional pada Pemilu Legislatif 1999, 2004, 2009, Pemilihan Presiden Juli 2004, September 2004 dan 2009 dengan masing-masing survey menggunakan 1.200 responden. Metode penarikan sampel dengan menggunakan teknis multistage random sampling.

Metode analisis dilakukan secara bertahap, tahap pertama dengan menggunakan teknik analisis bivariat yaitu untuk mengetahui sejauh mana faktor atau variabel berhubungan dengan faktor atau variabel lainnya. Tahap berikutnya memastikan apakah hubungan bivariat tersebut cukup independen atau tidak, untuk hal ini dilakukan analisis multivariat. Semua analisis dalam studi dapam upaya menguji tiga model perilaku pemilih yaitu model sosiologis, rasional dan psikologis.

Model Sosiologis

  • Model sosiologis dibangun dengan asumsi bahwa perilaku pemilih ditentukan oleh karakteristik sosologis pemilih, terutama kelas sosial, agama, dan kelompok etnik/kedaerahan.
  • Orang yang relatif berpendidikan lebih mungkin ikut Pemilu karena adanya kesadaran tentang arti Pemilu bagi kepentingan dirinya dan masyarakat banyak terutama terkait kebijakan-kebijakan publik yang berkaitan dengan semua warga termasuk dirinya.
  • Orang yang bekerja lebih mungkin ikut Pemilu dibanding yang sedang mencari pekerjaan. Alasanya, perhatian orang yang tak memiliki pekerjaan lebih terfokus pada upaya mencari pekerjaan.
  • Orang yang bekerja disektor yang lebih rentan terhadap kebijakan pemerintah, cenderung untuk ikut serta dalam Pemilu ketimbang sebaliknya. Termasuk dalam kategori ini pegawai pemerintah, kelompok pekerja yang bergaji atau pengusaha yang biasanya terkait regulasi seperti pajak dll.
  • Orang yang berpendapatan lebih baik memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk ikut serta dalam Pemilu kerena mereka mempunyai akses lebih luas terhadap informasi yang berkaitan dengan kebijakan publik. Orang yang berpendapatan lebih baik juga terbiasa hidup dalam lingkungan dengan norma-norma tertentu, sehingga memandang positif keikutsertaan dalam pemilu, dan memandang negatif absen dalam pemilu.
  • Orang yang mempunyai status sosial-ekonomi lebih baik memiliki kemungkinan lebih kuat untuk ikut dalam pemilu hanya bila ia berada dalam jaringan sosial yang memungkinan terjadinya mobilisasi politik.
  • Orang yang aktif dalam organisasi-organisasi sosial formal ataupun informal cenderung lebih terlibat dengan urusan-urusan publik karena terpaan informasi melalui pembicaraan dengan sesama anggota jaringan.
  • Partisipasi politik organisasi-organisasi sosial diikuti oleh mobilisasi politik (civic engagement). Hal ini merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dipertentangkan dengan partisipasi politik.
  • Seorang pemilih memilih partai atau calon pejabat publik tertentu karena adanya kesamaan antara karakteristik sosiologis pemilih dengan karakteristik sosiologis partai atau calon. Seseorang dengan latar belakang kelas sosial bawah (dilihat dari jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan dll) cenderung akan memilih partai politik dan calon pejabat publik yang dipandang memperjuangkan perbaikan kelas sosial mereka.
  • Persepsi pemilih tentang posisi kelas dari partai-partai politik menjadi penting untuk melihat perilaku pemilih. Hal ini kemudian terkait dengan persoalan ideologi.
  • Partai politik atau calon pejabat publik yang punya platform keagamaan yang sama dengan karakteristik keberagaman pemilih, cenderung akan didukung oleh pemilih tersebut. Orang yang taat beragama cenderung untuk mendukung partai yang ber platform keagamaan dibanding yang ber platform sekular.
  • Kelas sosial, ras dan etnik juga dipercayai sebagai faktor sosiologis yang mempengaruhi bagaimana seseorang memilih partai politik atau calon pejabat publik

Model Psikologis

  • Kritik terhadap model sosilogis asumsi seperti peilih yang punya daya sosial-ekonomi lebih baik dan berada dalam jaringan sosial yang bisa dijangkau oleh partai atau elite politik, belum tentu berpartisipasi dalam pemilu bila ia tidak tertarik atau tidak punya ikatan psikologis dengan partai atau tokoh partai tertentu.
  • Model psikologis memperkenalkan apa yang disebut sebagai budaya demokrasi atau civil culture dan secara khusus lagi apa yang disebut sebagai budaya partisipasi politik untuk menjelaskan partisipasi politik
  • Menurut model ini seorang warga berpartisipasi dalam pemilu bukan saja karena kondsisinya lebih baik secara sosial-ekonomi, akan tetapi karena ia tertarik dengan politik, punya perasaan dekat dengan partai tertentu (identitas partai), punya informasi yang cukup untuk menentukan pilihan, merasa suaranya berarti, serta percaya bahwa pilihannya dapat ikut memperbaiki keadaan (political efficacy).
  • Seseorang berpartisipasi dalam politik seperti memilih dalam pemilu, bukan saja karena berada dalam jaringan sosial tetapi juga karena ia ingin berpartisipasi. Walaupun ia terlibat (engaged) dalam kehidupan civic, tetapi tidak secara otomatis berpartisipasi dalam pemilu bila ia tidak ingin berpartisipasi. Yang termasuk dalam political engagement ini adalah informasi politik atau pengetahuan politik, political interest (tertarik politik), internal efficacy, dan partisianship (identitas partai).
  • Informasi politik adalah informasi yang dimiliki seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan politik atau yang berkaitan dengan kepentingan umum.
  • Orang yang punya informasi lebih banyak tentang masalah publik, cenderung lebih mampu menentukan sikap dan melakukan tindakan politik seperti ikut serta dalam pemilihan umum.
  • Terkait dengan informasi politik adalah keterkaitan seseorang warga terhadap politik atau masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan umum. Dalam demokrasi, orang yang tahu tentang masalah publik menyadari bahwa dirinya penting bagi kepentingan publik, dan karena itu kemudian tertarik dengna urusan publik tersebut. Pada gilirannya, ia terdorong unutk bertindak sesuai dengan pandangannya bahwa keikutsertaannya dalam memutuskan kepentingan publik tersebut menjadi lebih mungkin dibandingkan yang kurang tertarik dengan politik.
  • Ketertarikan kepada politik juga dipercaya terkait dengan political efficacy, yakni perasaan seseorang bahwa dirinya memapu memahami dan menentukan keadaan yang berkaitan dengan kepentingan publik; bahwa dirinya merasa optimis dan kompeten dalam melihat dan menyikapi masalah-masalah publik yang dihadapi suatu bangsa. Karena merasa bisa memahami dan mempengaruhi keputusan-keputusan publik, sekecil apapun, maka seorang warga cenderung melihat makna positif dari keterlibatannya dalam masalah-masalah publik. Sikap ini mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam pemilu.
  • Partisanship atau identitas partai adalah suatu keadaan psikologis, yakni perasaan dekat dengan, sikap mendukung atau setia pada, atau identifikasi diri dengan partai politik tertentu. Seorang partisipan adalah orang yang merasa dirinya bagian dari sebuah partai atau mengidentikkan dirinya dengna partai tertentu, misalnya orang ini mengatakan kepada kita, “Saya orang Golkar” atau “Saya orang PDIP”.
  • Model psikologis dan sosiologis memiliki hubungan sebagai berikut. Berangkat dari pertanyaan bagaimana mekanisme faktor-faktor sosiologis berpengaruh terhadap pilihan politik. Faktor-faktor sosiologis tersebut tidak bisa langsung mempengaruhi keputusan untuk memilih, tetapi diperantarai oleh persepsi dan sikap, baik terhadap faktos sosiologis maupun terhadap partai politik dan calon pejabat publik. Maka yang muncul kemudian bukan faktor sosiologis secara obyektif, melainkan faktor sosiologis yang dipersepsikan.

Model Pilihan Rasional

  • Menurut perspektif rasionalitas pemilih, seseorang berprilaku rasional yakni menghitung bagaimana caranya mendapatkan hasil maksimal dengan ongkos minimal.
  • Model ini memberi perhatian pada dinamika ekonomi-politik, sehingga asumsinya pilihan politik banyak dibentuk oleh evaluasi atas kondisi ekonomi, personal maupun kolektif. Evaluasi positif warga terhadap kondisi ekonomi akan memberikan reward (ganjaran) terhadap pejabat yang sedang menjabat. Sebaliknya, jika evaluasinya negatif, maka dia akan memberikan hukuman terhadapnya dengan cara memmilih pihak oposisi.
  • Orang memilih calon atau partai apabila calon atau partai tersebut dipandang dapat membantu pemilih memenuhi kepentingan dasarnya: kehidupan ekonomi. Bagaimana seseorang pemilih mengetahui bahwa partai dan calon tertentu dapat membantu mencapai kepentingan ekonominya tersebut tidak membutuhkan informasi yang terlalu detail dan akurat, cukup dengan mempersepsikan keadaan ekonomi dirinya (egosentrik) dibawah sebuah pemerintahan (partai atau calon).
  • Dalam model ekonomi-politik ini ditekankan bahwa perilaku politik pemilih dipengaruhi oleh kepentingan ekonominya. Bila keadaan ekonomi rumah tangga seseorang pemilh dibawa pemerintahan sekarang lebih baik dibanding periode sebelumnya, maka pemilih tersebut cenderung akan memilih partai atau calon presiden yang sedang memerintah sekarang dan begitu juga sebaliknya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s