Voter Turnout dan Demokratisasi

Posted on Updated on


2Banyak pendapat yang mengkaitkan antara tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu dengan tingkat demokratisasi dalam suatu negara. Asumsi yang dibangun, semakin tinggi tingkat partisipasi pemilih maka semakin tinggi pula kualitas demokrasi di negara tersebut.

Pendapat ini tidak ada salahnya karena dibangun diatas logika bahwa Pemilu merupakan aktivitas kontrak sosial yaitu penyerahan sebagian kedaulatan individu kepada segelintir orang untuk mengatur kehidupannya (baca: masyarakat). Semakin banyak jumlah orang yang berpartisipasi maka semakin tinggi tingkat legitimasi pemerintahan, baik di lembaga legislatif maupun di eksekutif. Menurut penulis, pendapat ini ada benarnya jika demokratisasi dipandang sebagai hanya persoalan legitimasi atau pendapat ini juga ada benarnya jika dipandang partisipasi politik hanya dalam bentuk menggunakan hak suara pada Pemilu.

Voter Turnout Pada Masa Orde Baru

Voter Turnout diartikan sebagai suatu bentuk partisipasi politik dalam Pemilu melalui perhitungan persentase orang yang menggunakan hak pilihnya, dibandingkan jumlah seluruh warga negara yang berhak memilih (Miriam Budiarjo, 2008).

Dalam kurun waktu 7 (tujuh) kali pelaksanakan Pemilu pada masa Orde Baru, Pemilu 1971 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling tinggi yaitu sebesar 94%, sementara Pemilu 2007 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling rendah yaitu sebesar 88,9%. Pada masa Orde Baru, rata-rata tingkat partisipasi pemilih diangka 92% dan hanya Pemilu 1997 yang tingkat partisipasi berada dibawah 90%.

Sementara itu pada kurun waktu 4 (empat) kali pelaksanaan Pemilu pada masa Orde Reformasi, Pemilu 1999 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling tinggi yaitu 93,3% dan Pemilu 2009 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling rendah yaitu 71,7%. Pada Pemilu terakhir tahun 2014 tingkat partispasi pemilih sebesar 75,1%.

Jika data ini digunakan, maka asumsi diatas bahwa tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu berhubungan dengan tingkat demokratisasi menjadi terbantahkan. Semua orang berpendapat sama bahwa Orde Reformasi sekarang jauh lebih demokratis dibandingkan Orde Baru, sementara data diatas menunjukkan jika tingkat partisipasi pemilih jauh lebih tinggi pada masa Orde Baru dibanding Orde Reformasi.

Voter Turnout Pada Negara-Negara Maju

Jika kita melihat data yang di publish oleh Insititute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA), tingkat partisipasi pemilih di negara-negara yang menjadi acuan demokrasi seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman bisa dikatakan lebih rendah dibanding Indonesia.

Berdasarkan data 5 (lima) Pemilu terakhir, negara Amerika Serikat rata-rata tingkat partisipasi sebesar 65%, Inggris sebesar 66.7%, Perancis sebesar 62% dan Jerman sebesar 75,8%. Sementara di wilayah Asia, rata-rata tingkat partisipasi 5 (lima) Pemilu terakhir di negara Malaysia sebesar 74,2%, Jepang sebesar 61,2%, Philipina sebesar 63,6% dan Korea Selatan sebsar 55,8%.

Tingkat partisipasi pemilih baik di negara barat maupun di negara asia, masih dibawah rata-rata tingkat partisipasi di Indoensia. Rata-rata tingkat partisipasi pemilih di Indonesia pada pelaksanaan 4 (empat) kali Pemilu paska reformasi sebesar 80,75%. Artinya tingkat partisipasi pemilih di Indonesia lebih tinggi dibandingkan tingkat partisipasi pemilih di negara-negara maju, bahkan pada regional Asia, tingkat partisipasi di Indonesia juga lebih tinggi dibanding negara-negara asia lainnya yang tidak menerapkan compulsary voting (wajib memilih).

Berdasarkan data voter turnout negara-negara diatas, maka asumsi bahwa tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu berhubungan dengan tingkat demokratisasi menjadi terbantahkan. Negara-negara maju yang selama ini menjadi pelopor dalam mempromosikan demokrasi kepada negara-negara berkembang, ternyata tingkat partisipasinya justru masih dibawah tingkat partisipasi pemilih di Indonesia.

Meningkatnya Pemilih Rasional dan Partisipasi Politik Bentuk Lain

Penyebab menurunnya tingkat partisipasi pemilih dalam suatu Pemilu, diantaranya dapat dijelaskan oleh 2 (dua) faktor. Pertama, menurunnya tingkat partisipasi pemilih mengindikasikan bertambahnya pemilih rasional dalam suatu negara. Menurut Down (1957), pemilih rasional memiliki karakter akan menggunakan hak pilihnya jika mendatangkan manfaat secara ekonomi atau jika dapat mengurangi dampak resiko. Manfaat tersebut dikaitkan dengan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan yang sedang berjalan, apakah kebijakan pemerintah mendapatkan manfaat bagi individu pemilih atau tidak.

Berdasarkan teori ini, pemilih yang memandang bahwa pemerintah telah mendatangkan manfaat terhadap dirinya akan cenderung memilih rezim pemerintahan tersebut kembali atau justru malah tidak menggunakan hak pilihnya. Pemerintahan yang telah berjalan secara baik dan demokratis menyebabkan warga memiliki perspesi bahwa partisipasi politik dalam pemilu tidak lagi menjadi begitu penting karena sistem telah berjalan secara baik, siapapun pemimpinnya akan menjalankan sistem yang telah baik tersebut. Sebaliknya, pemilih rasional akan menggunakan hak pilihnya jika evaluasi mereka terhadap pemerintahan dianggap tidak baik, sehingga memilih pada Pemilu menjadi penting untuk mendatangkan perubahan/manfaat terhadap dirinya dan masyarakat.

Kedua, menurunnya tingkat partisipasi dalam Pemilu pada negara yang demokratis atau semi-demokratis, biasanya disertai dengan meningkatnya intensitas bentuk partisipasi politik lainnya. Iklim demokratis membuka ruang partisipasi publik secara luas untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Bentuk partisipasi tersebut sangat beragam, misalnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan, pengawasan pemerintahan melalui media massa atau sosial media, ruang debat publik yang terbuka dan akses informasi yang cepat. Ruang partisipasi politik yang terbuka lebar pada negara yang demokratis menyebabkan partisipasi politik warga semakin meningkat tajam, tetapi pada bentuk partisipasi konvensional (Pemilu) justru semakin menurun.

Tulisan ini dimuat pada Harian Jambi Today, Tanggal 13 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s