Pelembagaan Partai Politik

Posted on Updated on


5Fenomena pelembagaan partai politik menjadi kajian yang menarik dalam studi politik. Sejarah tumbuh kembang partai politik di Indonesia ditandai oleh dua hal yaitu tokoh politik dan aliran politik. Banyak partai yang hadir pada masa lalu atau masa kini dibentuk oleh tokoh politik yang memiliki resource yang kuat. Partai politik juga dibentuk sebagai artikulasi kepentingan politik aliran, baik itu secara keagamaan atau politik.

Tipologi aliran politik seperti yang dirumuskan oleh Herbert Feith pada tahun 1960-an sudah tidak relevan lagi dalam memandang partai politik sekarang. Kecenderungan partai politik adalah menangkap semuanya (catch all), partai sekuler menjadi semakin agamis dan partai agamis bergerak menjadi nasionalis, partai massa berlomba menjadi partai kader dan partai kader memperbesar konstituennya menjadi partai massa.

Menurunnya fenomena politik aliran diatas tidak berlaku pada fenomena politik ketokohan. Partai politik yang dibentuk karena faktor kekuatan tokoh politik masih mengambil tempat dalam kancah politik sekarang, bahkan partai-partai tersebut mampu lolos ambang parlementary threshold untuk menempatkan wakilnya di parlemen. Saiful Munjani (2010) menjelaskan bahwa hal ini memperlihatkan perilaku memilih masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh faktor tokoh politik sentral di suatu partai, faktor identifikasi kepartaian yang selama dekade 1990-an menjadi faktor yang cukup berpengaruh menjadi kurang relevan lagi.

Sejarah pekembangan partai politik di Indonesia ditandai dengan hadirnya parpol sebagai sarana politik seorang tokoh politik untuk mengaktualisasikan kepentingan politik dirinya atau kelompoknya. Hal seperti ini juga dapat dilihat pada munculnya partai politik paska reformasi. Sebagian dari partai politik yang hadir di parlemen sekarang pada awal kemunculannya merupakan aktulasasi dari person individu tokoh politik. Ada yang masih menancapkan hegemoninya dan ada yang sudah melepaskan hegemoni politiknya secara perlahan.

Membangun Sistem Kelembagaan

Sebagai salah satu pilar demokrasi, tantangan bagi partai politik di Indonesia kedepannya adalah mewujudkan pelembagaan partai politik yang kuat serta mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara maksimal. Pelembagaan partai politik ditujukan untuk membangun partai yang modern, mampu beradaptasi, otonom, serta memiliki ketahanan dan kemampuan dalam mengelola konflik.

Randall dan Svasand (2002) memahami pelembagaan partai politik sebagai proses pemantapan baik secara struktural dalam rangka mempolakan perilaku, maupun secara kultural dalam mempolakan sikap atau budaya (the process by which the party becomes established in terms of both integrated patterns on behavior and of attitudes and culture). Proses pelembagaan ini mengandung dua aspek, yaitu aspek internal-eksternal, dan aspek struktural-kultural, tetapi inti terhadap proses pelembagaan partai politik ditentukan oleh dua aspek yaitu aspek sistem (system) dan tokoh (actor).

Pelembagaan sistem meliputi proses pembuatan keputusan, identitas nilai, pengelolaan sumber daya, mekanisme penyelesaikan konflik, dan kemampuan menyesuaikan diri (survival). Partai yang modern dan kuat mensyaratkan hal-hal tersebut diatas sebagai suatu keharusan dalam membangun partai politik.

Sementara itu personifikasi individu (actor) pada suatu partai politik merupakan kondisi yang kurang menguntungkan bagi upaya pelembagaan partai. Memang benar pada awal-awal partai mulai membangun kelembagaan, tokoh politik menjadi alat pemersatu dan ideologisasi partai, akan tetapi seiring waktu ketergantungan partai politik terhadap personifikasi individu justru akan menjadikan partai ketergantungan dan tidak dapat bersikap secara independen. Partai yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap seorang individu tidak akan dapat beradapatasi dan bertahan dalam perkembangan politik kedepannya.

Membangun Identitas Nilai Partai

Kecenderungan partai yang bergerak ketengah (catch all) tidak menguntungkan bagi pembangunan politik Indonesia kedepannya. Sebagai contoh pertanyaan sederhana: “Apa yang membedakan partai politik yang satu dengan yang lainnya pada Pemilu 2014 yang lalu?” seluruh partai menjadikan program peningkatan kesejahteraan rakyat sebagai program prioritas, seluruh partai menjadikan aspek penegakan hukum sebagai hal yang harus diperjuangkan, seluruh partai menjadikan isu pendidikan dan kesehatan murah sebagai kebijakan yang akan dijalankan ketika berkuasa. Tidak ada perbedaan yang signifikan. Seluruh partai memiliki platform yang relatif hampir sama.

Pada zaman Orde Lama, partai dibentuk sebagai aktualisasi ideologis/aliran. PNI mengaktualisasikan ideologi nasionalis, Partai NU dibentuk sebagai artikulasi kepentingan kalangan Nahdiyin, Partai Masyumi dibentuk sebagai aktualisasi kalangan Islam modernis. Pada zaman sekarang, identitas nilai partai tidak lagi tampak jelas. Semua partai memiliki kecenderungan untuk menuju pada titik tengah, tidak nasionalis dan tidak agamis. Partai-partai politik memasang isu-isu populis pada saat kampanye dengan harapan mampu mendulang suara ketika Pemilu.

Kondisi ini dapat dipahami karena beratnya perjuangan partai politik untuk merebut suara rakyat. Akan tetapi dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini tidak akan mampu membangun pondasi politik yang kuat, karena partai politik akan bersikap praktis-pragmatis bukan strategis-ideologis. Perjuangan paska Pemilu lebih dipengaruhi aspek-aspek transaksional-pragmatis dibandingkan perjuangan ideologis.

Terkait hal ini sudah waktunya baik partai politik mencoba kembali menginternalisasikan identitas nilai yang selama ini diyakini telah ada dipartai sebagai bangunan identifikasi partai. Partai poltik dengan sistem yang kuat, modern, tidak tergantung dengan individu akan semakin kuat jika ditopang dengan identitias nilai yang menjadi platform partai.

Ditengah hiruk pikuk agenda musyawarah nasional dan musyarawah daerah partai politik, sudah saatnya menjelang Pemilu 2019 partai politik memulai upaya untuk membangun pelembagaan partai yang modern dan kuat. Partai politik merupakan pilar penting bagi terwujudnya demokrasi di negara ini. Pilar yang kuat diyakini akan mampu mewujudkan sistem politik yang stabil dan kedepannya diyakini juga mampu mengartikulasikan kepentingan konstituen secara maksimal.

Dimuat pada media online metrojambi.com,

Link: http://www.metrojambi.com/v1/home/kolom/34639-pelembagaan-partai-politik.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s