Jean Baudrillard

Modernisasi Menurut Para Ilmuwan

Posted on


IMG_6563Anthony Giddens

Anthony Giddens melihat dan menganalogikan kehidupan modern seperti panser raksas “juggernaut” sebagai berikut :

Panser raksasa yang sedang melaju hingga taraf tertentu bisa kemudikan, tetapi juga terancam lepas kendali hingga menyebabkan dirinya hancur lebur. Panser raksasa ini akan menghancurkan orang yang menentangnya dan mesti kadang-kadang menempuh jalur yang teratur, namun ia juga dapat sewaktu-waktu dapat berbelok kearah yang tak terbayangkan sebelumnya. Perjalanannya bukan sama sekali tidak menyenangkan atau tak bermanfaat; adakalanya memang menyenangkan dan berubah sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi, sepanjang instutusi modernitas ini berfungsi. Kita takkan pernah mampu mengendalikan sepenuhnya baik arah maupun kecepatan perjalanannya. Kitapun takkan pernah merasa aman sama sekali karena kawasan yang dijelajahinya penuh dengan bahaya. Giddens (1990 dalam George Ritzer, 2004:553)

Giddens menentang pendapat para pakar yang menyatakan bahwa kita telah memasuki era post-modern, menurut Giddens kehidupan kita sekarang bukan masuk ke wilayah post-modern karena jika sudah post berarti sudah meninggalkan kemodernan, kehidupan kita sekarang berada pada masa kemodernan tahap lanjut (late modernity).

Giddens melihat sistem kapitalisme seperti pisau bermata dua, dimana ada sisi positif dan negatifnya, namun demikian giddens pro terhadap kapitalis karena menurut dia tatanan sistem kapitalis jauh lebih baik dari tatanan sistem kehidupan sebelumnya, baik itu tradisonal, feodalistik dan lain sebagainya meskipun diakuinya bahwa sistem kapitalis mempunyai dampak yang buruk. Akibat perkembangan institusi modern yang telah menyebar ke seluruh dunia telah menyediakan peluang yang besar bagi manusia untuk menikmati kehidupan yang “aman dan berganjaran” sehingga manusia bisa melakukan interkasi melampaui batas-batas ruang dan waktu dengan adanya uang sebagai sarananya atau diistilahkan oleh giddens sebagai “ketidaklengketan (disembedding) dengan ruang dan waktu”. Oleh sebab itu perhatian kita adalah bagimana kita bisa mengendalikan dampak negatif dari kapitalis serta memperbanyak implementasi aspek positifnya. Inilah sudut pandang teori giddens terkait modernitas, dia tidak mengatakan bahwa sistem kapitalis akan hancur serta tidak mendorong kita agar kembali kebelakang (back to nature) dan giddens optimistis didalam memandang kemodernan,

Giddens (dalam George Ritzer, 2004:553-557) mendefinisikan modernitas dilihat dari 4 dimensi mendasar yaitu : (1). kapitalisme, yang ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa property, dan sistem kelas yang erasal dari ciri-ciri tersebut, (2). industrialisme (proses-proses produksi di dalam industri) yang melibatkan penggunaan sumberdaya alam dan mesin untuk memproduksi barang. Industralisme tak tidak terbatas pada tempat berkerja saja dan industrialisme mempengaruhi sederetan lingkungan lain seperti transportasi, komunikasi, dan bahkan kehidupan rumah tangga, (3). kemampuan pengawasan (surveilance capacity), megacu kepada pengawasan atas aktivitas warga negara individual dalam bidang politik misalnya CCTV, trafic camera, satelite, (4). Kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasan, merupakan politik pemerintah di dalam mengambil alih semua instrumen kekerasan, ini dimaksudkan agar masyarakat sipil tidak boleh menggunakan kekerasan kecuali pemerintah, termasuk industrialisasi peralatan perang.

Aspek positif modernitas dan kedinamisannya dapat dilihat melalui 3 aspek penting dari teori strukturasi giddens yaitu (1). Adanya pemisahan waktu dan ruang. Dalam masyarakat pramodern, waktu selalu dikaitkan dengan ruang serta ruang umumnya ditentukan oleh kehadiran secara fisik, dengan datangnya modernitas ruang makin lama makin dilepaskan dari tempatnya, berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik makin lama makin besar peluangnya.

Pemisahan waktu dan ruang adalah penting bagi modernitas karena beberapa alasan, pertama, memungkinkan tumbuhnya organisasi rasional seperti birokrasi dan negara-negara dengan dinamismenya dan kemampuannya untuk menghubungkan dengan otoritas lokal dan global. kedua, kehidupan modern ditempatkan di dalam pengertian radikal dari sejarah dunia dan itu dapat menimbulkan kesan bahwa sejarah membentuk masa kini,

Ketiga, pemisahan ruang dan waktu seperti itu adalah syarat utama bagi sumber kedua dinamisme dalam modernitas atau diistilahkan oleh giddens sebagai “keterlepasan “disembedding)”. Keterlepasan menyebabkan hubungan sosial menjadi “terangkat” dari konteks lokal interaksi ke tingkat yang melintasi ruang dan waktu yang terbatas (1990:21). Ada dua tipe mekanisme keterlepasan yang penting peranannya dalam masyarakat modern dimana keduanya dapat disebut sistem abstrak. Pertama, tanda simbolik, uang misalnya. Uang memungkinkan pemisahan ruang-waktu. Dengan uang kita bisa melakukan transaksi dengan orang lain yang jauh yang dipisahkan oleh waktu dan atau ruang.

Kedua, adanya sistem keahlian (expert system) yakni sistem kecakapan tehnis atau keahlian profesional yang mengorganisir bidang material dan lingkungan sosial dimana kita hidup kini  (giddens, 1992:27). Sistem keahlian yang paling menonjol adalah profesi sebagai pengacara dan dokter, dan lain-lain. Dengan sistem keahlian memberikan jaminan pelaksanaan pekerjaan melintasi ruang dan waktu. (2). Adanya kepercayaan (trust) terhadap sistem yang abstrak misalnya pasar modal, perbankan, pelayanan di rumah sakit, sistem transportasi, dan lain-lain dan inilah yang menopang eksistensi di dalam masyarakat modern. Kepercayaan didefinisikan “sebagai kepercayaan terhadap keandalan (realibility) seseorang atau sistem berkenaan dengan sekumpulan kejadian atau hasil tertentu dan kepercayaan itu menyatakan keyakinan terhadap kejujuran atas kecintaan orang lain atau terhadap kebenaran prinsip-prinsip abstrak (pengetahuan tehnis)”. (3). adanya keadaan yang disebut Giddens sebagai “refleksivitas” yaitu praktik sosial terus-menerus diuji dan diubah berdasarkan infomasi yang baru yang paling praktis, disini giddens menggunakan pandangan max weber tentang konsep rasionalitas instrumental seperti konstitusi. Konsep refleksivitas ini dipakai oleh giddens untuk menganalisis politik seperti yang dijelaskan di dalam buku “the third way”, bagimana giddens menemukan semua partai politik di dunia mengalami transformasi.

Sedangkan aspek negatifnya, modernitas berbahaya, masyarakat yang berisiko (risk society), tidak stabil, dan tidak tentu laju dan arah berjalannya, kecelakaan reaktor nuklir, pemanasan global, serta berjalannya otonomi daerah di Indonesia yang jauh dari harapan merupakan bentuk kehidupan negatif dunia modernitas serta tidak terkendali.

Akan tetapi “juggernaut” modernitas tahap lanjut bisa kita kendalikan kearah jalan yang kita kehendaki seperti yang kita harapkan dengan cara mengendalikan aspek ranah politik serta mengkondisikan berjalannya “negara pemasti” (ensuring state) di dalam tata kehidupan bernegara. Agar “negara pemasti” ini bisa terbentuk dan berjalan maka diperlukan upaya-upaya gerakan sosial yang terus-menerus dilakukan oleh masyarakat secara luas dengan mengambil peran dan bertugas untuk menekan, mengontrol, serta mengawasi negara sehingga negara bisa menjadi “negara pemasti” serta tidak diatur oleh pihak private sektor. terlepas dari semua itu Giddens menyatakan bahwa pada akhirnya masyarakat harus kembali kepada kepedulian terhadap moral dan etika.

Jean Baudrillard

Menurut Jean Baudrillard penekanan analisis pada masa masyarakat post-modern adalah pada masalah konsumsi bukan masalah produksi karena masyarakat saat sekarang ini sudah jauh berkembang dan tidak lagi seperti masyarakat pada era Karl Marx. Jean Baudrillard mengkritik aliran marxis yang menekankan anlisis pada aspek produksi yang bersifat kapitalistis serta dampaknya terhadap masyarakat. Menurut Jean Baudrillard analisis aspek produksi yang bersifat kapitalistis termasuk konsep aleniasi hanya cocok pada masyarakat modern atau pada era zamannya karl marx dan untuk masa sekarang anlisis seperti itu tidak relevan lagi. Menurut Baudrillard, pada masyarakat sekarang ini, kita tidak bisa lagi membedakan mana yang “asli” dan mana “yang palsu” karena yang palsu sudah dianggap yang asli melalui kepiawaian didalam dunia iklan padahal itu adalah palsu dan dibuat-buat sehingga seperti asli.

Fokus kajian baudrillard adalah tanda atau kode dari suatu komoditas atau dengan perkataan lain tekanan analisis teori baudrillard adalah makna dari komoditas yang di konsumsi, contoh makna dari rumah yang dibeli, dan lain-lain. Suatu komoditas dilihat sebagai tanda yang menyatakan suatu makna atau simbol dan orang mengkonsumsi komoditas tersebut karena makna atau tandanya bukan karena kegunaan atau manfaat dari benda itu sehingga akan menimbulkan kesan yang ditimbulkan dari mengkonsumsi komoditas tersebut. Tanda-tanda tersebut saling dipertukarkan satu sama lain, jadi bukan produksi yang dipertukarkan. Tanda-tanda tersebut tidak dipertukarkan untuk hal yang sesungguhnya atau asli tetapi yang bersifat ilusi contoh iklan politis, politisi menjual pesan, pemilih membeli kesan.

Menurut Baudrillard, dunia hari ini bukanlah dunia pertukaran produk-produk tetapi pertukaran tanda-tanda (pemaknaan), contoh kapitalis menjual sepatu sebagai tanda sepatu untuk kalangan kaya raya, dan konsumen membeli sepatu tersebut bukan karena manfat sepatu tersebut akan tetapi membeli sepatu itu karena bisa dianggap atau digolongkan sebagai orang kaya raya.

Baudrillard juga mengatakan bahwa kita hidup sekarang dalam dunia produksi telah berakhir atau berakhirnya produksi komoditas yang ada sekarang adalah produksi simbol, atau dengan perkataan lain tata cara produksi bukan terkait nilai guna komoditas akan tetapi era produksi makna simbolis oleh sebab itu pilihan warna, pengemasan, bentuk, penyajian, dan atribut-atribut suatu produk menjadi lebih penting daripada nilai gunanya atau dengan perkataan lain model produksi berorientasi estetis, contoh kenapa orang membeli mobil mewah seharga 3 miliar, jika hanya untuk sarana transportasi maka mobil dengan harga murah sudah cukup, akan tetapi konsumen tidak membeli nilai guna mobil tersebut, mereka membeli nilai simbol dari mobil mewah itu. Produksi tanda itu masih dalam mode kapitalis yang baudrillard sebut “mode kapitalis hyper reality” atau kapitalis angan-angan dimana yang palsu terlihat lebih real dari yang real. Jadi yang diproduksi para kapitalis sekarang adalah produksi kode atau tanda-tanda dari suatu produk bukan penekanan produksi kepada nilai guna dari produk tersebut. Dominasi bukan lagi oleh komoditasnya tetapi oleh tanda-tanda atau simbol dari komoditas tersebut.

Untuk menjelaskan analaisis terorinya, baudrillard memunculkan konsep “simulacra” dan baudrillard mengatakan bahwa hari ini kita hidup di dalam dunia simulacra. Simulacra adalah realitas tiruan yang menghilangkan yang asli atau tidak menyatakan yang sebenarnya akan tetapi menyatakan hal yang bersifat ilusi seperti film. Simulacra merupakan hasil dari simulasi atau peniruan terhadap proses dunia nyata akan tetapi yang ditiru kemudian menghilangkan orisinalitas hal yang ditiru (yang asli). Masyarakat hari ini menggantikan realitas dengan makna, simbol-simbol, dan tanda-tanda. Pengalaman manusia adalah simulasi realitas yaitu suatu abstarksi terhadap realitas dan hal tersebut yang sekarang menjadi penting di dalam kehidupan. Jadi nilai guna tidak lagi menjadi pertimbangan akan tetapi nilai tanda yang menjadi hal yang dominan didalam pertimbangan.

Ada 3 tingkatan di dalam simulacra yaitu (1). counterfeit. periode masyarakat pra-modern. representasi suatu yang riil dan tidak dapat ditiru. misalnya, tato dalam masyarakat mentawai merepresentasikan sesuatu tetapi gambarnya bisa ditiru, (2). produksi, ini ditemukan didalam era industri. Suatu komoditas ditiru dalam jumlah banyak dalam produksi industrial dan menjadi komoditas massal. misalnya, tato platik yang digandakan dari suatu gambar, (3). simulasi, ini adalah tiruan dalam masyarakat ke kinian (late modernity), suatu tiruan yang berbeda sama sekali dengan yang ditiru, yang ditiru dipandang sebagai realitas yang sebenarnya, atau dengan perkataan lain sesuatu yang ditiru itu dipandang sebagai realitas yang sebenarnya. Contoh keluarga yang soleh di film dipandang sebagi realitas yang sebenarnya sehingga kita sekarang hidup di dalam realitas tiruan.

Jadi tidak ada perbedaan antara realitas dengan tiruan, mana yang asli dan mana yang palsu sudah tidak ada bedanya lagi. Komoditas mendapat makna dengan cara diasosiasikan dengan sesuatu, misalnya celana jeans diasosiasikan dengan seksualitas sehingga ada celana jeans yang maskulin atau komoditas diasosiasikan dengan orang kaya, pintar, dan lain-lain, dengan adanya perkembangan ini mengakibatkan makna barang yang diciptakan melalui merek menjadi terpisah dari produksi dan konsumsi atau dengan makna barang tidak terkait lagi dengan kegunaannya, melainkan terkait dengan pertukaran ekonominya, makin mahal suatu barang, maka semakin bernilai barang tersebut. Jadi yang membuat mahal barang tersebut dikarenakan kesan-kesannya misalnya kesan prestise sehingga barang tersebut dibeli bukan terkait nilai gunanya tetapi dibeli karena kesan prestisenya. Dengan adanya fenomena ini, dewasa ini orang tidak lagi membeli produk dikarenakan oleh nilai gunanya akan tetapi orang membeli produk dikarenakan dari makna yang diasosiasikan terhadap produk tersebut.

Mengapa simulacra terjadi di masyarakat post modern, hal ini disebabkan oleh adanya :  (i). media kotemporer termasuk television, film, majalah dan Internet, dimana semua media tersebut telah mengaburkan garis antara produk yang diinginkan (produk kebutuhan hidup) dengan produk-produk yang diperlukan karena diciptakan oleh kesan-kesan komersial, (ii). Nilai Tukar, dimana nilai barang-barang didasarkan atas uang daripada kegunaannya, bahkan kegunaan suatu produk bisa dikuatifikasi dan didefinisikan dalam istilah keuangan untuk membantu pertukaran, (iii) kapitalisme multinasional, yang memisahkan barang-barang yang diproduksi dari tumbuhan-tumbuhan, mineral, dan material-material asli lainnya dengan kegiatan produksinya (termasuk masyarakat dan konteks budaya mereka) digunakan untuk memciptakan barang-barang tersebut. (iv). adanya urbanisasi, yang memisahkan dunia manusia dengan yang bukan, yang memusatkan kembali budaya sistem berpikir yang produktif yang begitu besar sehingga menyebabkan adanya keterasingan. (v). Bahasa dan Ideologi, dimana bahasa semakin terjebak di dalam produksi hubungan-hubungan kekuasaan antara group-group sosial terutama kelompok-kelompok yang kuat di dalam kelembagaan mereka sendiri setidaknya sebagian di dalam istilah keuangan.

Teori Post-Kolonialisme

Teori post-kolonialisme merupakan kajian akdemis yang berkembang luar biasa sejak tahun 1980-an. Perkembangan ini sebagai dampak pemikiran teori kritis dan post-modernisme dan lain-lain dimana praktek klasifikasi ilmiah, pemahaman, dan penelitian tidak dapat di lepaskan ari pengaruh kepentingan, kuasa, dan ideologi. Edwar Said (dalam Akhyar Yusuf Lubis, 2006:200) sebagai tokoh terkemuka teori post-kolonial mengemukakan bahwa konstruk barat (kolonial) terhadap budaya dan identitas orang timur tidak terlepas dari kepentingan, ideologi, dan etnosentrisme barat. Wacana post-kolonial disebut juga wacana yang berada “diluar orientalisme (barat)” karena berupaya untuk mengubah konstruksi realitas eksotik kontemporer model berpikir barat modern (orientalisme) tersebut.

Fokus kajian post-kolonial adalah problem ketidakadilan dalam bidang sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan (epsitimologi) yang diakibatkan oleh hegemoni, kolonialisme, serta narsisme dan kekerasan epistimologi barat yang sudah berkembang sejak abad modern. Kajian post-kolonial juga menawarkan sebuah pemahaman kritis dan berupaya menyingkap berbagai dimensi ideologis, hegemonis, dan imperialis yang terdapat di dalam ilmu sosial budaya.

Adapun ilmuan yang terkenal yang melakukan kajian terkait post-kolonial ini diantaranya : Edwar Said, Gayatri Chakravorty Spivakz, Frant Fanon, Homi Babba.

Daftar Pustaka

  • Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2004, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana-Prenada Media Group
  • Giddens, Anthony. 2000, The Third Way, Jalan Ketiga Pembahruan Demokrasi Sosial,             Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Lubis, Akhyar Yusuf. 2006, Dekonstruksi Epistimologi Modern, Jakrta : Pustaka Indonesia Satu
  • Edkins, Jenny & Nick Vaughan Williams. 2013, Teori-Teori Kritis – Menantang Padangan Utama Studi Politik Internasional, Jakarta : Pustaka Pelajar
  • Agger, Ben. 2009, Teori Sosial Kritis, Jakarta : Kreasi Wacana
  • Strinati, Dominic. 2004, Popular Culture, Pengantar Menuju Teori Budaya Populer,                        Jakarta : PT. Bentang Pustaka
  • Said, Edward W. 2001, Orientalisme, Jakarta : Pustaka
  • Baudrillard, Jean. 2001, Galaksi Simulacra, Yogyakarta : Lkis Yogyakarta