partisipasi politik

Buku: Perilaku Memilih Dalam Pemilu

Posted on


 

Perilaku memilih merupakan bentuk dari partisipasi politik dan merupakan bentuk partisipasi yang paling elementer dari demokrasi. Perilaku memilih adalah proses penentuan keputusan seseorang untuk memilih (atau tidak memilih) partai atau kandidat tertentu dalam Pemilu.

Buku ini disusun berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku memilih dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014 yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memilih. Terdapat 6 (enam) variabel yang digunakan, yakni: sosiodemografi, informasi politik, orientasi tokoh politik, identifikasi kepartaian, ekonomi politik dan politik uang.

Pemesanan Buku dapat menghubungi HP/WA:Β 085266098110

Voter Turnout dan Demokratisasi

Posted on Updated on


2Banyak pendapat yang mengkaitkan antara tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu dengan tingkat demokratisasi dalam suatu negara. Asumsi yang dibangun, semakin tinggi tingkat partisipasi pemilih maka semakin tinggi pula kualitas demokrasi di negara tersebut.

Pendapat ini tidak ada salahnya karena dibangun diatas logika bahwa Pemilu merupakan aktivitas kontrak sosial yaitu penyerahan sebagian kedaulatan individu kepada segelintir orang untuk mengatur kehidupannya (baca: masyarakat). Semakin banyak jumlah orang yang berpartisipasi maka semakin tinggi tingkat legitimasi pemerintahan, baik di lembaga legislatif maupun di eksekutif. Menurut penulis, pendapat ini ada benarnya jika demokratisasi dipandang sebagai hanya persoalan legitimasi atau pendapat ini juga ada benarnya jika dipandang partisipasi politik hanya dalam bentuk menggunakan hak suara pada Pemilu.

Voter Turnout Pada Masa Orde Baru

Voter Turnout diartikan sebagai suatu bentuk partisipasi politik dalam Pemilu melalui perhitungan persentase orang yang menggunakan hak pilihnya, dibandingkan jumlah seluruh warga negara yang berhak memilih (Miriam Budiarjo, 2008).

Dalam kurun waktu 7 (tujuh) kali pelaksanakan Pemilu pada masa Orde Baru, Pemilu 1971 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling tinggi yaitu sebesar 94%, sementara Pemilu 2007 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling rendah yaitu sebesar 88,9%. Pada masa Orde Baru, rata-rata tingkat partisipasi pemilih diangka 92% dan hanya Pemilu 1997 yang tingkat partisipasi berada dibawah 90%.

Sementara itu pada kurun waktu 4 (empat) kali pelaksanaan Pemilu pada masa Orde Reformasi, Pemilu 1999 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling tinggi yaitu 93,3% dan Pemilu 2009 merupakan Pemilu yang tingkat partisipasinya paling rendah yaitu 71,7%. Pada Pemilu terakhir tahun 2014 tingkat partispasi pemilih sebesar 75,1%.

Jika data ini digunakan, maka asumsi diatas bahwa tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu berhubungan dengan tingkat demokratisasi menjadi terbantahkan. Semua orang berpendapat sama bahwa Orde Reformasi sekarang jauh lebih demokratis dibandingkan Orde Baru, sementara data diatas menunjukkan jika tingkat partisipasi pemilih jauh lebih tinggi pada masa Orde Baru dibanding Orde Reformasi.

Read More………….